Itulah tema kajian utama Tarbawi edisi ini. Di bagian awal dijelaskan bahwa cara seseorang dalam menilai adalah cermin dari dirinya sendiri, kualifikasinya, yang kemudian di nyatakan dalam bagaimana ia bersikap atas sesuatu. Menarik. Seperti yang terjadi di Indonesia saat ini, kenapa? Karena kita menjadi cermin dari apa yang media tuliskan. Ketika media menyatakan A maka kita pun akan mengatakan A, ketika media menyatakan B maka kita pun juga akan mengatakan B. Media menjadi salah satu sarana untuk mengendalikan opini publik yang sangat efektif, ditambah dengan kenyataan bahwa media-media itu memiliki afiliasinya masing-masing dan diperburuk oleh kemampuan sintesa kita saya yang masih rendah.
Selain itu, dengan berbekal dari pengetahuan yang masih minim, yang seringkali diperoleh dari ‘kutipan’ media atau pernyataan seorang pejabat atau seorang pengamat, banyak orang yang berani melakukan penilaian dan menyebarkan penilain tersebut. Sebenarnya saya bingung juga bagaimana memperoleh informasi yang benar tentang terutama tentang kondisi Indonesia saat ini, kalaupun memperoleh dari berita di TV atau media cetak, terasa itu adalah informasi yang telah ‘disesuaikan’, saya tidak diberi kesempatan untuk memperoleh informasi yang dapat saya olah dengan kepala saya sendiri. Padahal hakekat informasi (seperti yang ditulis dalam Tarbawi) adalah memberikan ketercerahan, bertambahnya pengetahuan dan kejelasan sebuah persoalan.
“Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang tidak kamu ketahui. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati akan dimintai pertanggung jawabannya” QS Al-Isra: 36
“Di akhir zaman nanti akan muncul sekelompok orang yang masih muda usia dan lemah akal. Mereka menyerukan sebaik-baik perkataan. Mereka membaca Al-qur’an tapi tidak melewati kerongkongan mereka (tidak memahaminya).” Hadist
Na’udzubillah…
Kembali pada pembahasan di Tarbawi…
“Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur.” QS. An-Nahl: 78
Saya merasa cukup tersadarkan dengan sebuah paragraf. Isinya: pengetahuan kita cari di sela hiburan, ilmu kita cari di sela drama, dan kita sudah merasa terpuaskan. Kefahaman tidak pernah kita cari secara sungguh-sungguh karena terasa melelahkan. Akibatnya, tradisi pengetahuan kita rapuh. Kita tidak memiliki pemahaman mendalam tentang suatu masalah, baik latar belakangnya, dasarnya, arahnya, perspektifnya. Maka jadilah kita saat ini hanya berbagi informasi tanpa berbagi pengetahuan apalagi pemahaman.
Paragraf ini cukup untuk mengingatkan saya kembali akan pesan seorang teman bahwa tabiat ilmu itu adalah harus dicari dan didatangi.
Begitulah, sampai di sini saja. Untuk lebih lengkapnya silahkan baca Tarbawi Edisi 228 Th.11, Jumadil Akhir 1431, 20 Mei 2010.
Dedicated to the owner of life
The most powerfull, gracious, and mercy.
“Indonesia Indonesia adalah negeri budak, budak diantara bangsa dan budak bagi bangsa-bangsa lain”